TUGAS KELOMPOK
PENYEDIAAN AIR MINUM
“SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DI
NEGARA BELANDA”
Disusun Oleh
Dewi Komalasari (25-2011-037)
Mayang Afi Fadiyah (25-2011-038)
Delta Fitri Sari (25-2011-040)
JERUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN
PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2013
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1.
Latar belakang…………………………………………………. 1
1.2.
Rumusan masalah……………………………………………… 2
1.3.
Tujuan ………………………………………………………..... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1.
Air keran ala Belanda………………………………………….. 3
2.2.
Sistem sumber…………………………………………………. 3
2.3.
Ozonisasi………………………………………………………. 4
2.4.
Filter alami……………………………………………………... 4
2.5.
Air tanah artifisial……………………………………………… 4
2.6.
Pengelolaan air………………………………………………… 8
2.7.
Praktik Belanda di Indonesia…………………………………... 9
Daftar Pustaka…………………………………………………………… 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar belakang
Dilihat
dari segi geografi, Indonesia merupakan negara yang beruntung. Tanah air
Indonesia yang menyebar di sekitar khatulistiwa menjadikan negeri ini beriklim
tropis. Letak kepulauan Indonesia di antara Benua Asia dan Benua Australia,
serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, membuat wilayah Indonesia
strategis berada pada posisi silang. Hal ini mempunyai arti penting dalam
kaitannya dengan iklim dan perekonomian. Total daratan Indonesia 1.922.570 km²
dengan daratan non-air: 1.829.570 km² dan daratan berair: 93.000 km². Dengan
lima pulau besarnya Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya,
Indonesia kaya akan potensi alam, laut, dan tanah yang subur.
Melihat
fakta-fakta di atas, sebagai orang Indonesia kita dapat berbangga hati. Namun,
jika kita melirik sedikit ke negara yang memiliki hubungan dekat dengan
Indonesia selama 350 tahun di masa silam, tentu rasa syukur itu akan bertambah,
bahkan dapat berubah menjadi decak kagum. Fasilitas alam dan kenyamanan
geografis yang kita miliki sayangnya tidak dimiliki negara tersebut,
Belanda
nama negeri itu. Tentu anda tahu kalau bentuk permukaan tanah Belanda termasuk
yang unik. Terletak di benua Eropa dengan berbatasan langsung dengan Laut
Utara, Belanda memiliki permukaan tanah yang sangat rata. Hampir separuh dari
negara Belanda berada kurang satu meter dari permukaan laut. Permukaan
tertingginya hanya 321 meter di permukaan laut, yaitu propinsi Limburg, yang
berada di bagian tenggara negeri Belanda. Untuk bertahan dari terjangan air
maka dibuatlah bendungan-bendungan untuk menahan air yang mengelilingi tanah
Belanda.
Belajar
dari tuntutan alam dan ‘dipaksa’ berkreasi, Belanda menjadi salah satu Negara
yang maju dalam bidang perairannya, termasuk mengenai sistem penyediaan air
yang ada. Salah satunya adalah sistem unik yang diteparkan di Belanda berupa
sistem air tanah artifisial.
Dengan
melakukan studi kasus sistem penyediaan air yang ada di Belanda dapat dilakukan
perbandingan dengan sistem yang ada di Indonesia.
1.2.
Rumusan masalah
1.2.1.
Bagaimana air keran yang ada di Belanda?
1.2.2.
Bagaimana sistem sumber yang ada di
Belanda?
1.2.3.
Istalasi pengolahan apa saja yang ada di
Belanda?
1.2.4.
Bagaimana bila praktik yang ada di
Belanda diterapkan di Indonesia?
1.3.
Tujuan
Studi kasus sistem penyediaan air ini di lakukan dengan tujuan :
1.3.1.
Mengetahui sistem penyediaan air yang
ada di salah satu Negara maju, Belanda
1.3.2.
Mengetahui praktik Negara Belanda bila
diterapkan di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Air keran ala Belanda
Di negara maju seperti
Belanda, warga dapat meminum air langsung dari keran, atau istilahnya water
from the tap.
Pengelolaan air minum
yang telah mapan itu hasil pembangunan sejak 150 tahun lalu. Tahun 1850, angka
kematian akibat penyakit yang disebabkan kurangnya ketersediaan air bersih
seperti thypoid dan kolera sangat tinggi. Seiring dengan dibangunnya pengelolaan
air bersih, angka kematian tersebut menurun.
2.2.
Sistem Sumber
Sumber air di negeri
kincir angin itu umumnya sumber air tanah (ground water), air permukaan
(surface water), dan di beberapa wilayah utara menggunakan air laut dengan
proses desalinasi.
Penggunaan sumber air
tanah masih menjadi favorit di Belanda mengingat air tanah di kawasan tersebut
minim patogen atau parasit sehingga dapat digunakan tanpa disinfektan.
Pengelolaan air tanah juga lebih mudah. Air dipompa dari sumur kemudian disaring
berkali-kali.
Hanya saja, ketersediaan
air tanah tidak cukup sehingga lalu digunakan air permukaan seperti dari sungai
dan danau. Air tersebut dapat dikelola secara langsung atau dirancang menjadi
air tanah artifisial.
Guna menghasilkan air
tanah artifisial itu, air permukaan ”diinjeksi” ke dalam tanah. Proses itu
terbilang unik di dunia. Air permukaan seperti air sungai setelah melalui
rangkaian proses penyaringan awal kemudian diresapkan kembali ke dalam tanah di
sebuah area tertentu sehingga menjadi ”air tanah”.
Air yang sudah menjalani
proses penyaringan secara alami itu lalu dipompa kembali ke dalam saluran untuk
proses lanjutan. Pengelolaan air permukaan sampai akhirnya layak minum, umumnya
melalui rangkaian panjang sistem penyaringan ganda dan penggunaan butiran
karbon aktif untuk menyerap pestisida dan polutan mikro. Terkadang dilakukan
pula sedimentasi atau pengendapan. Air kemudian didisinfektan.
2.3.
Ozonisasi
Sebagai pengganti
chlorine yaitu ozonisasi,—ozon atau O³ yang larut dalam air akan memecah bahan
organik pengganggu dan membunuh bakteri, menggunakan hydrogen peroxide, serta
dengan radiasi sinar ultraviolet (UV). Gelombang UV menonaktifkan
mikroorganisme patogen. Air minum akan bebas dari pestisida dan rendah kadar
materi organik sehingga tak perlu chlorine dalam proses distribusi.
2.4.
Filter alami
Sistem ”injeksi” air
permukaan itu disukai karena tidak perlu membangun instalasi khusus untuk
olahan lanjutan baru untuk air permukaan. Cukup dengan instalasi pengolahan air
tanah lebih dulu ada. Injeksi ke dalam tanah sekaligus sebagai filter alami
untuk bakteri patogen dan virus. Kualitas dan temperatur air terbilang konstan.
2.5.
Air Tanah Artifisial
Teknologi “artificial recharge” adalah teknik menyimpan air
permukaan/hujan ke dalam akifer tertentu dengan cara injeksi melalui sumur
dalam ketika air berlebih seperti hujan atau banjir. Yang akan berfungsi untuk
pemeliharaan air tanah berkelanjutan dan menjaga ketersediaan
air bersih di dalam tanah. Akifer adalah lapisan batuan yang mampu
menyimpan dan mengalirkanair tanah dengan nilai koefisien permeabilitas (k)
berkisar antara 10-3 – 10-6 cm/detik.
Teknologi
ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan teknologi yang telah diperkenalkan
sebelumnya, seperti biopori, bioretensi, dan sumur resapan. Jika
biopori memasukkan air limpasan ke air tanah dangkal, maka artificial recharge memasukkan air limpasan ke air tanah
dalam. Sedangkan sumur resapan diletakkan di bawah talang air rumah dan
bioretensi merupakan kolam konservasi air dengan fungsi serupa.
Teknologi injeksi
air tanah dapat memperkecil variasi musiman aliran sungai. Pengisian
kembali akifer air tanah dangkal pada akhirnya dapat menaikkan aliran dasar sungai
(base flow) sehingga debit sungai pada musim kemarau tidak terlalu kecil. Pengisian
tersebut juga akan mengurangi debit limpasan yang berpotensi menjadi banjir
pada musim hujan. Tergantung dari peruntukan dasarnya, air yang disedot kembali
dapat dimanfaatkan untuk air bersih, air irigasi, dan sebagainya. Apabila ditujukan
untuk pemenuhan kebutuhan air bersih
untuk keperluan sehari-hari, pemanfaatan teknologi injeksi air tanah akan
mengurangi kebutuhan akan jaringan perpipaan distribusi karena dimungkinkannya pengklusteran wilayah pelayanan.
Akuifer pada dasarnya adalah "jaringan perpipaan" alamiah. Pemanfaatan
teknologi injeksi air tanah juga akan mengurangi kebutuhan akan penyimpanan air
di permukaan tanah. Walaupun injeksi air tanah menawarkan berbagai manfaat,
pelaksanaan teknis operasionalnya membutuhkan seperangkat peraturan dan suatusistem
pembiayaan.
Penerapan
teknologi ini menjadi lebih mudah karena selain dikembangkannya kreativitas
teknologi oleh para ahli air tanah, juga adanya dukunga yang tepat dari para
senator, sehingga dukungan secara politis, sosialisasi serta meningkatkan peran masyarakat menjadi
dapat difasilitasi dengan baik, termasuk dukungan
pendanaan. Contoh, di Israel teknologi ASR telah dilakukan sejak tahun 1956.
Lebih tua lagi di Belanda tercatat negara yang menerapkan
teknologi ASR yang pertama
kali dengan pengalaman keberhasilan menginjeksikan sekitar 380
juta liter (99 juta galon) selama musim hujan
dan berhasil diambil kembali sebanyak 300 juta liter (79 juta
galon)
Teknologi
injeksi air tanah sangat sesuai dengan amanat dari UU 7/2004 tentang Sumber
Daya Air (SDA) dan PP 16/2005 tentang Sistem Penyediaan Air Minum
(SPAM).Pengembangan SPAM adalah merupakan kegiatan yang terpadu
dengan pengelolaan SDA. Keterpaduan tersebut
akan menjamin keberlanjutan potensi dan penggunaan SDA. Teknologi injeksi air tanah
adalah merupakan alternatif pemecahan persoalan di mana ketidakteraturan
penataan ruang suatu wilayah telah menganggu pengisian kembali akuifer secara
alamiah. Penataan ruang sendiri adalah salah satu kunci utama dalam pengelolaan
SDA. Teknologi injeksi air tanah dapat memperkecil variasi musiman aliran sungai.
Pengisian kembali akifer air tanah dangkal pada akhirnya dapat menaikkan aliran
dasar sungai (base flow) sehingga debit sungai pada musim kemarau tidak
terlalu kecil. Pengisiantersebut juga akan mengurangi debit limpasan yang
berpotensi menjadi banjir pada musim hujan. Tergantung dari peruntukan
dasarnya, air yang disedot kembali dapat dimanfaatkanuntuk air bersih, air
irigasi, dan sebagainya. Apabila ditujukan untuk pemenuhan kebutuhanair bersih untuk keperluan sehari-hari, pemanfaatan teknologi injeksi air tanah akan
mengurangi kebutuhan akan jaringan perpipaan distribusi karena dimungkinkannya pengklusteran
wilayah pelayanan.
Beberapa
hal penting dalam penerapan teknologi ini yaitu (Awwa Research Foundation,
2006) :
·
Penetapan sumur yang tepat.
·
Pemahaman pengaruh dan dampak atas
kualitas air tanah
·
Pemahaman desain sumur dan keberlanjutan
operasi
·
Regulasi yang tepat dan kepastian hukum
atas proses dan manfaat dilakukannyaimbuhan air tanah secara buatan ke akifer yang dituju
Gambar 2.1
Penginjeksian Air Permukaan Menjadi Air Tanah
Serta Peralatannya
Gambar 2.1
Penginjeksian Air Permukaan Menjadi Air Tanah
2.5.
Pengelolaan Air
Air umumnya
didistribusikan melalui pipa dan stasiun pompa. Perusahaan air di Belanda
mempunyai pipa transportasi sepanjang 500 kilometer dengan diameter 400-1.000
mm.
Pengelolaan air
diserahkan kepada perusahaan yang kebanyakan sahamnya dipegang pemerintah provinsi
dan kotapraja dengan prinsip nirlaba—sehingga tetap mengutamakan kepentingan
pelayanan publik. Harga air bersih dari keran bervariasi mulai dari 0,78 euro
(sekitar Rp 9.984) hingga 1,97 euro (Rp 25.216) per meter kubik.
2.6.
Praktik Belanda di
Indonesia
Praktik ala Belanda itu
tentu tidak serta-merta menjadi rumus mutlak mengingat terdapat perbedaan
geografis, cuaca, dan luas wilayah. Di Indonesia, dengan dua musim, hujan dan
kemarau, pengelolaan sumber air menjadi tantangan besar.
Luas wilayah juga merupakan
tantangan besar dalam distribusi air bersih. Pengelolaan air bersih membutuhkan
sumber daya manusia yang andal dan konsisten.
Pada prinsipnya, untuk
negara berkembang, desentralisasi pengelolaan dan pengolahan air bersih menjadi
sangat penting. Di samping itu, inovasi untuk menciptakan teknologi rendah,
mudah perawatan, serta berbiaya murah harus terus dikembangkan.
Daftar Pustaka
Anomim. 2010. Injeksi Air Tanah.
Didownload dari http://id.scribd.com/doc/
100285815/Injeksi-Air-Tanah. Diakses 3 Maret 2013.
Anggun. 2012. Belajar Dari Sistem Polder
Negera Belanda. Didownload
dari http://anggunsugiarti.blogspot.com/2012/02/belajar-dari-sistem-polder-negera
.html. Diakses 20 Februari 2013.
Oktora, Monika. 2012.
Cara Kreatif Belanda Belajar dari Alam
dan Bertahan di Bawah Air. Didownload dari http://moniqblueprint.wordpress.com/2012/05/
09/cara-kreatif-belanda-belajar-dari-alam-dan-bertahan-di-bawah-air/.Diakses
20 Februari 2013.
Permanasari, Indira. 2008. Water From The Tap di Belanda.
Didownload dari http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin--wind-turbine--wind-mill/3422--water-from-the-tap-di-belanda.html.
Diakses 20 Februari 2013.
Wahono, Tri. 2009. Teknologi
"Artificial Recharge" Simpan Air, Atasi Banjir. Didownload dari http://sains.kompas.com/read/2009/03/27/19531297/Teknologi.Artificial.
Recharge.Simpan.Air..Atasi.Banjir. Diakses 3 Maret 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar