5 Des 2016

SPAM di negara maju



TUGAS KELOMPOK
PENYEDIAAN AIR MINUM
“SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DI NEGARA BELANDA”

Disusun Oleh
Dewi Komalasari (25-2011-037)
Mayang Afi Fadiyah (25-2011-038)
Delta Fitri Sari (25-2011-040)
   



JERUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2013



Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
1.1.   Latar belakang………………………………………………….  1
1.2.   Rumusan masalah………………………………………………   2
1.3.   Tujuan ………………………………………………………..... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1.   Air keran ala Belanda…………………………………………..   3
2.2.   Sistem sumber………………………………………………….   3
2.3.   Ozonisasi……………………………………………………….  4
2.4.   Filter alami……………………………………………………...  4
2.5.   Air tanah artifisial………………………………………………    4
2.6.   Pengelolaan air…………………………………………………   8
2.7.   Praktik Belanda di Indonesia…………………………………...   9
Daftar Pustaka…………………………………………………………… 10



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar belakang
Dilihat dari segi geografi, Indonesia merupakan negara yang beruntung. Tanah air Indonesia yang menyebar di sekitar khatulistiwa menjadikan negeri ini beriklim tropis. Letak kepulauan Indonesia di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, membuat wilayah Indonesia strategis berada pada posisi silang. Hal ini mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan iklim dan perekonomian. Total daratan Indonesia 1.922.570 km² dengan daratan non-air: 1.829.570 km² dan daratan berair: 93.000 km². Dengan lima pulau besarnya  Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya, Indonesia kaya akan potensi alam, laut, dan tanah yang subur.
Melihat fakta-fakta di atas, sebagai orang Indonesia kita dapat berbangga hati. Namun, jika kita melirik sedikit ke negara yang memiliki hubungan dekat dengan Indonesia selama 350 tahun di masa silam, tentu rasa syukur itu akan bertambah, bahkan dapat berubah menjadi decak kagum. Fasilitas alam dan kenyamanan geografis yang kita miliki sayangnya tidak dimiliki negara tersebut,
Belanda nama negeri itu. Tentu anda tahu kalau bentuk permukaan tanah Belanda termasuk yang unik. Terletak di benua Eropa dengan berbatasan langsung dengan Laut Utara, Belanda memiliki permukaan tanah yang sangat rata. Hampir separuh dari negara Belanda berada kurang satu meter dari permukaan laut. Permukaan tertingginya hanya 321 meter di permukaan laut, yaitu propinsi Limburg, yang berada di bagian tenggara negeri Belanda. Untuk bertahan dari terjangan air maka dibuatlah bendungan-bendungan untuk menahan air yang mengelilingi tanah Belanda.
Belajar dari tuntutan alam dan ‘dipaksa’ berkreasi, Belanda menjadi salah satu Negara yang maju dalam bidang perairannya, termasuk mengenai sistem penyediaan air yang ada. Salah satunya adalah sistem unik yang diteparkan di Belanda berupa sistem air tanah artifisial.
Dengan melakukan studi kasus sistem penyediaan air yang ada di Belanda dapat dilakukan perbandingan dengan sistem yang ada di Indonesia.

1.2.       Rumusan masalah

1.2.1.      Bagaimana air keran yang ada di Belanda?
1.2.2.      Bagaimana sistem sumber yang ada di Belanda?
1.2.3.      Istalasi pengolahan apa saja yang ada di Belanda?
1.2.4.      Bagaimana bila praktik yang ada di Belanda diterapkan di Indonesia?

1.3.       Tujuan
Studi kasus sistem penyediaan air ini di lakukan dengan tujuan :
1.3.1.      Mengetahui sistem penyediaan air yang ada di salah satu Negara maju, Belanda
1.3.2.      Mengetahui praktik Negara Belanda bila diterapkan di Indonesia


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       Air keran ala Belanda
Di negara maju seperti Belanda, warga dapat meminum air langsung dari keran, atau istilahnya water from the tap.
Pengelolaan air minum yang telah mapan itu hasil pembangunan sejak 150 tahun lalu. Tahun 1850, angka kematian akibat penyakit yang disebabkan kurangnya ketersediaan air bersih seperti thypoid dan kolera sangat tinggi. Seiring dengan dibangunnya pengelolaan air bersih, angka kematian tersebut menurun.

2.2.       Sistem Sumber
Sumber air di negeri kincir angin itu umumnya sumber air tanah (ground water), air permukaan (surface water), dan di beberapa wilayah utara menggunakan air laut dengan proses desalinasi.
Penggunaan sumber air tanah masih menjadi favorit di Belanda mengingat air tanah di kawasan tersebut minim patogen atau parasit sehingga dapat digunakan tanpa disinfektan. Pengelolaan air tanah juga lebih mudah. Air dipompa dari sumur kemudian disaring berkali-kali.
Hanya saja, ketersediaan air tanah tidak cukup sehingga lalu digunakan air permukaan seperti dari sungai dan danau. Air tersebut dapat dikelola secara langsung atau dirancang menjadi air tanah artifisial.
Guna menghasilkan air tanah artifisial itu, air permukaan ”diinjeksi” ke dalam tanah. Proses itu terbilang unik di dunia. Air permukaan seperti air sungai setelah melalui rangkaian proses penyaringan awal kemudian diresapkan kembali ke dalam tanah di sebuah area tertentu sehingga menjadi ”air tanah”.
Air yang sudah menjalani proses penyaringan secara alami itu lalu dipompa kembali ke dalam saluran untuk proses lanjutan. Pengelolaan air permukaan sampai akhirnya layak minum, umumnya melalui rangkaian panjang sistem penyaringan ganda dan penggunaan butiran karbon aktif untuk menyerap pestisida dan polutan mikro. Terkadang dilakukan pula sedimentasi atau pengendapan. Air kemudian didisinfektan.

2.3.       Ozonisasi
Sebagai pengganti chlorine yaitu ozonisasi,—ozon atau O³ yang larut dalam air akan memecah bahan organik pengganggu dan membunuh bakteri, menggunakan hydrogen peroxide, serta dengan radiasi sinar ultraviolet (UV). Gelombang UV menonaktifkan mikroorganisme patogen. Air minum akan bebas dari pestisida dan rendah kadar materi organik sehingga tak perlu chlorine dalam proses distribusi.

2.4.       Filter alami
Sistem ”injeksi” air permukaan itu disukai karena tidak perlu membangun instalasi khusus untuk olahan lanjutan baru untuk air permukaan. Cukup dengan instalasi pengolahan air tanah lebih dulu ada. Injeksi ke dalam tanah sekaligus sebagai filter alami untuk bakteri patogen dan virus. Kualitas dan temperatur air terbilang konstan.

2.5.       Air Tanah Artifisial
Teknologi “artificial recharge” adalah teknik menyimpan air permukaan/hujan ke dalam akifer tertentu dengan cara injeksi melalui sumur dalam ketika air berlebih seperti hujan atau banjir. Yang akan berfungsi untuk pemeliharaan air tanah berkelanjutan dan menjaga ketersediaan air bersih di dalam tanah. Akifer adalah lapisan batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkanair tanah dengan nilai koefisien permeabilitas (k) berkisar antara 10-3 – 10-6 cm/detik.
Teknologi ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan teknologi yang telah diperkenalkan sebelumnya, seperti biopori, bioretensi, dan sumur resapan. Jika biopori memasukkan air limpasan ke air tanah dangkal, maka artificial recharge memasukkan air limpasan ke air tanah dalam. Sedangkan sumur resapan diletakkan di bawah talang air rumah dan bioretensi merupakan kolam konservasi air dengan fungsi serupa.
Teknologi injeksi air tanah dapat memperkecil variasi musiman aliran  sungai. Pengisian kembali akifer air tanah dangkal pada akhirnya dapat menaikkan aliran dasar sungai (base flow) sehingga debit sungai pada musim kemarau tidak terlalu kecil. Pengisian tersebut juga akan mengurangi debit limpasan yang berpotensi menjadi banjir pada musim hujan. Tergantung dari  peruntukan dasarnya, air yang disedot kembali dapat dimanfaatkan untuk air bersih, air irigasi, dan sebagainya. Apabila ditujukan untuk pemenuhan  kebutuhan air  bersih untuk keperluan sehari-hari, pemanfaatan teknologi injeksi air tanah akan mengurangi kebutuhan  akan jaringan perpipaan distribusi karena dimungkinkannya pengklusteran wilayah pelayanan. Akuifer pada dasarnya adalah "jaringan perpipaan" alamiah. Pemanfaatan teknologi injeksi air tanah juga akan mengurangi kebutuhan akan penyimpanan air di permukaan tanah. Walaupun injeksi air tanah menawarkan berbagai manfaat, pelaksanaan teknis operasionalnya membutuhkan seperangkat peraturan dan suatusistem pembiayaan.
Penerapan teknologi ini menjadi lebih mudah karena selain dikembangkannya kreativitas teknologi oleh para ahli air tanah, juga adanya dukunga yang tepat dari para senator, sehingga dukungan secara politis, sosialisasi serta meningkatkan peran masyarakat menjadi dapat difasilitasi dengan baik,  termasuk  dukungan pendanaan. Contoh, di Israel teknologi ASR telah dilakukan sejak tahun 1956. Lebih tua lagi di Belanda  tercatat  negara  yang  menerapkan  teknologi  ASR  yang  pertama  kali  dengan  pengalaman  keberhasilan menginjeksikan  sekitar 380 juta liter (99 juta galon) selama musim  hujan  dan  berhasil  diambil  kembali  sebanyak 300 juta liter (79 juta galon)
Teknologi injeksi air tanah sangat sesuai dengan amanat dari UU 7/2004 tentang Sumber Daya Air (SDA) dan PP 16/2005 tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).Pengembangan SPAM adalah merupakan kegiatan yang terpadu dengan pengelolaan SDA. Keterpaduan    tersebut akan menjamin keberlanjutan potensi dan penggunaan SDA. Teknologi injeksi air tanah adalah merupakan alternatif pemecahan persoalan di mana ketidakteraturan penataan ruang suatu wilayah telah menganggu pengisian kembali akuifer secara alamiah. Penataan ruang sendiri adalah salah satu kunci utama dalam pengelolaan SDA. Teknologi injeksi air tanah dapat memperkecil variasi musiman aliran sungai. Pengisian kembali akifer air tanah dangkal pada akhirnya dapat menaikkan aliran dasar sungai (base flow) sehingga debit sungai pada musim kemarau tidak terlalu kecil. Pengisiantersebut juga akan mengurangi debit limpasan yang berpotensi menjadi banjir pada musim hujan. Tergantung dari peruntukan dasarnya, air yang disedot kembali dapat dimanfaatkanuntuk air bersih, air irigasi, dan sebagainya. Apabila ditujukan untuk pemenuhan kebutuhanair bersih untuk keperluan sehari-hari, pemanfaatan teknologi injeksi air tanah akan mengurangi kebutuhan akan jaringan perpipaan distribusi karena dimungkinkannya pengklusteran wilayah pelayanan.
Beberapa hal penting dalam penerapan teknologi ini yaitu (Awwa Research Foundation, 2006) :
·          Penetapan sumur yang tepat.
·          Pemahaman pengaruh dan dampak atas kualitas air tanah
·          Pemahaman desain sumur dan keberlanjutan operasi
·                     Regulasi yang tepat dan kepastian hukum atas proses dan manfaat dilakukannyaimbuhan air tanah secara buatan ke akifer yang dituju 


Gambar 2.1
Penginjeksian Air Permukaan Menjadi Air Tanah Serta Peralatannya
























Gambar 2.1
Penginjeksian Air Permukaan Menjadi Air Tanah

2.5.       Pengelolaan Air
Air umumnya didistribusikan melalui pipa dan stasiun pompa. Perusahaan air di Belanda mempunyai pipa transportasi sepanjang 500 kilometer dengan diameter 400-1.000 mm.
Pengelolaan air diserahkan kepada perusahaan yang kebanyakan sahamnya dipegang pemerintah provinsi dan kotapraja dengan prinsip nirlaba—sehingga tetap mengutamakan kepentingan pelayanan publik. Harga air bersih dari keran bervariasi mulai dari 0,78 euro (sekitar Rp 9.984) hingga 1,97 euro (Rp 25.216) per meter kubik.

2.6.       Praktik Belanda di Indonesia
Praktik ala Belanda itu tentu tidak serta-merta menjadi rumus mutlak mengingat terdapat perbedaan geografis, cuaca, dan luas wilayah. Di Indonesia, dengan dua musim, hujan dan kemarau, pengelolaan sumber air menjadi tantangan besar.
Luas wilayah juga merupakan tantangan besar dalam distribusi air bersih. Pengelolaan air bersih membutuhkan sumber daya manusia yang andal dan konsisten.
Pada prinsipnya, untuk negara berkembang, desentralisasi pengelolaan dan pengolahan air bersih menjadi sangat penting. Di samping itu, inovasi untuk menciptakan teknologi rendah, mudah perawatan, serta berbiaya murah harus terus dikembangkan.












Daftar Pustaka

Anomim. 2010. Injeksi Air Tanah. Didownload dari http://id.scribd.com/doc/ 100285815/Injeksi-Air-Tanah. Diakses 3 Maret 2013.
Anggun. 2012. Belajar Dari Sistem Polder Negera Belanda. Didownload dari http://anggunsugiarti.blogspot.com/2012/02/belajar-dari-sistem-polder-negera .html. Diakses 20 Februari 2013.
Oktora, Monika. 2012. Cara Kreatif Belanda Belajar dari Alam dan Bertahan di Bawah Air. Didownload dari http://moniqblueprint.wordpress.com/2012/05/ 09/cara-kreatif-belanda-belajar-dari-alam-dan-bertahan-di-bawah-air/.Diakses 20 Februari 2013.
Wahono, Tri. 2009. Teknologi "Artificial Recharge" Simpan Air, Atasi Banjir. Didownload dari http://sains.kompas.com/read/2009/03/27/19531297/Teknologi.Artificial. Recharge.Simpan.Air..Atasi.Banjir. Diakses 3 Maret 2013.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar