LAPORAN PARKTIKUM
PENGANTAR ILMU GEOGRAFIS
o Judul Praktikum : Pengukuran Beda Tinggi
o Nama Praktikan : Delta Fitri Sari
o NRP : 25-2011-040
o Tanggal Penyerahan dan Paraf : 23 Oktober 2012
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2012
I.
MAKSUD
DAN TUJUAN
1.
Menggunakan alat pengukuran beda tinggi
Waterpass
2.
Mengukur beda tinggi dengan alat
Waterpass
3.
Menghitung hasil pengukuran dengan alat
Waterpass
II.
DASAR
TEORI
Waterpass
Waterpass
adalah alat untuk mengukur beda tinggi antara dua titik. Penentuan selisih
tinggi antara dua titik dapat dilakukan dengan tiga cara penempatan alat
penyipat datar tergantung pada keadaan lapangan. Jikalau jarak antara dua titik
yang harus ditentukan selisih tingginya mempunyai jarak yang terlalu panjang,
sehingga rambu ukur tidak dapat dilihat dengan jelas maka jarak tersebut dapat
dibagi menjadi jarak antara yang lebih kecil.
Untuk
menentukan tinggi permukaan bumi dapat dilihat dari suatu bidang referensi,
yaitu bidang yang ketinggiannya dianggap nol. Beda ketinggian diatas permukaan
bumi dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain :
1.
Sipat datar(Spirit levelling).
2.
Takhimetrik(tachymetric levelling).
3.
Trigonometrik( trigonometric
levelling)kecil.
4.
Barometrik(barometric levelling).
Bagian-bagian
Waterpass antara lain :
1. lensa
teropong
2. cermin
3. nivo
4. alat
penggerak halu
Waterpass
terdiri atas dua lensa, yaitu lensa obyektif dan lensa okuler. Di samping itu
terdapat lensa pembalik yang membuat jalannya sinar dari obyek ke pengamat
lurus. Fungsi cermin dipakai untuk mengawasi nivo oleh pengamat sambil
mengarahkan teropong ke obyek yang dituju. Untuk mengontrol posisi pesawat
apakah sudah datar atau belum digunakan nivo. Sedangkan untuk mengatur teropong
sehingga pembacaan titik menjadi jelas digunakan alat penggerak halus.
Gambar Waterpass
Keterangan
gambar waterpass :
1. Sekrup
penggerak lensa teropong
2. Lensa
okuler
3. Cermin
pemantul bidang nivo tabung
4. Nivo
tabung
5. Sekrup
penyetel
6. Klem
pengunci
7. Penyetel
arah sudut
8. Lensa
obyekti
Gambar
3.4. Rambu
Bentuk
rambu mirip dengan mistar kayu yang besar, dilengkapi dengan skala pembacaan
tiap satu sentimeter dan skala besarnya merupakan huruf E. Panjang rambu adalah
tiga meter. Bahan rambu ada yang dari kayu maupun alumunium. Rambu berguna
untuk membantu theodolit dalam menentukan jarak secara optis. Hal yang perlu
diperhatikan adalah dalam memegang rambu harus tegak lurus terhadap titik yang
ditinjau.
Sipat
Datar (Spirit Levelling)
Sipat
datar (Spirit levelling) adalah suatu operasi untuk menentukan beda tinggi
antara dua titik di permukaan tanah, yang biasa digunakan dalam pembuatan jalan
maupun pembangunan. Sebuah bidang datar acuan, atau datum, ditetapkan dan
elevasi diukur terhadap bidang tersebut. Beda elevasi yang ditentukan
dikurangkan dari atau ditambah dengan nilai yag ditetapkan tersebut, dan
hasilnya adalah elevasi titik-titik tadi.
Saat
digunakan, awalnya alat didirikan pada suatu titik yang diarahkan pada dua buah
rambu yang berdiri vertical. Beda tinggi antara kedua titik dapat dicari dengan
menggunakan pengurangan antara bacaan muka dan bacaan belakang.
Rumus
beda tinggi antara dua titik :
Keterangan :
BT = beda tinggi
BTA = bacaan benang tengah A
BTB = bacaan benang tengah B
Sebelum mendapatkan beda tinggi antara dua titik, diperlukan dulu pembacaan benang tengah titik tersebut, dengan menggunakan rumus :
Keterangan :
BT = bacaan benang tengah
BA = bacaan banang atas
BB = bacaan benang bawah
BT = bacaan benang tengah
BA = bacaan banang atas
BB = bacaan benang bawah
Untuk mencari jarak optis antara dua titik dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
d = jarak datar optis
BA = bacaan benang atas
BB = bacaan benang bawah
100 = konstanta pesawat
Ada beberapa persyaratan pada pemakaian alat penyipat datar/ waterpass antara lain :
1. Syarat dinamis: sumbu I vertical
2. Syarat statis
3. Garis bidik teropong sejajar dengan garis arah nivo
4. Garis arah nivo tegak lurus sumbu I (sumbu vertikal)5. Garis mendatar diafragma tegak lurus sumbu I
BB = bacaan benang bawah
100 = konstanta pesawat
Ada beberapa persyaratan pada pemakaian alat penyipat datar/ waterpass antara lain :
1. Syarat dinamis: sumbu I vertical
2. Syarat statis
3. Garis bidik teropong sejajar dengan garis arah nivo
4. Garis arah nivo tegak lurus sumbu I (sumbu vertikal)5. Garis mendatar diafragma tegak lurus sumbu I
Pengukuran
Beda Tinggi
Fungsi
dari pengukuran beda tinggi ini, antara lain :
1. Merancang
jalan raya, jalan baja, dan saluran-saluran yang mempunyai garis gradien paling
sesuai dengan topografi yang ada.
2. Merencanakan
proyek-proyek konsruksi menurut evaluasi terencana.
3. Menghitung
volume pekerjaan tanah.
4. Menyelidiki
ciri-ciri aliran di suatu wilayah.
5. Mengembangkan
peta-peta yang menunjukkan bentuk tanah secara umum.
Kesalahan–Kesalahan Yang Biasa Dilakukan Di Lapangan
Berikut adalah kesalahan–kesalahan
yang biasa dilakukan di lapangan :
1. Pembacaan
yang salah terhadap rambu ukur. Hal ini dapat di sebabkan karena mata si
pengamat kabur, angka rambu ukur yang hilang akibat sering tergores, rambu ukur
kurang tegak dan sebagainya.
2. Penempatan
pesawat atau rambu ukur yang salah.
3. Pencatatan
hasil pengamatan yang salah.
4. Menyentuh
kaki tiga (tripod) sehingga kedudukan pesawat / nivo berubah.
Kesalahan-Kesalahan dalam Pengukuran
Waterpass
Walaupun
sebelum pengukuran peralatan telah dikoreksi dan syarat-syarat lain telah
terpenuhi, namun karena hal-hal yang tak terduga sebelumnya,
kesalahan-kesalahan yang lain tetap dapat terjadi, yaitu:
1. Bersumber
dari alat ukur, antara lain:
a)
Garis bidik tidak sejajar arah nivo
Pada pengukuran dengan alat ukur
waterpas, garis bidik harus dibuat sejajar dengan garis arah nivo agar hasil
yang didapatkan teliti. Adapun jika garis bidik tidak sejajar dengan garis arah
nivo, kesalahan dapat dihilangkan dengan membuat jarak alat ukur ke rambu muka
sama dengan jarak alat ukur ke rambu belakang
b)
Kesalahan Titik Nol Rambu
Kesalahan ini bisa terjadi dari pabrik,
namun bisa pula terjadi karena alas rambu yang aus dimakan usia atau sebab yang
lain. Pengaruh dari kesalahan ini apabila jumlah slag dibuat genap.
c)
Kesalahan Karena Rambu yang tidak
Betul-Betul Vertikal
Untuk menghindari kesalahan ini maka
rambu harus betul-betul vertikal dengan cara menggunakan nivo rambu atau
unting-unting yang digantungkan padanya
d)
Kesalahan Karena Penyinaran yang Tidak
Merata
Sinar matahari yang jatuh tidak merata
pada alat ukur waterpas akan menyebabkan panas dan pemuaian pada alat waterpas
yang tidak merata pula, khususnya nivo teropong, sehingga pada saat gelembung
seimbang, garis arah nivo tidak mendatar dan garis bidik juga tidak mendatar.
Untuk menghindari keadaan semacam ini sebaiknya alat ukur dipayungi agar tidak
langsung terkena sinar matahari.
2. Bersumber
dari si pengukur, antara lain:
a)
Kurang paham tentang pembacaan rambu
Untuk menghindari kesalahan ini,
pembacaan dikontrol dengan koreksi 2BT=BA+BB
b)
Kesalahan karena mata cacat atau lelah
Untuk menghindari kesalahan ini
sebaiknya mata yang cacat menggunakan kacamata dan pengamatan dilakukan dengan
mata secara bergantian. Mata yang sedang tidak digunakan untuk membidik juga
tidak perlu dipejamkan atau dipicingkan.
c)
Kondisi fisik yang lemah
Untuk menghindari keadaan yang demikian,
surveyor perlu istirahat di tengah hari, makan teratur dan selalu menjaga
kondisi tubuh
d)
Pendengaran yang kurang
3. Bersumber
dari alam, antara lain:
a)
Kesalahan karena kelengkungan permukaan
bumi
Kesalahan ini dapat diabaikan dengan
membuat jarak rambu muka sama dengan jarak rambu belakang
b)
Kesalahan karena refraksi sinar
Permukaan bumi diselimuti dengan
lapisan-lapisan udara yang ketebalannya tidak sama karena suhu dan tekanan yang
tidak sama. Hal ini akan mengakibatkan sinar yang sampai pada teropong dari
obyek yang dibidik akan menjadi melengkung ke atas sehingga yang terbaca
menjadi terlalu besar.
c)
Kesalahan Karena Undulasi
Pada tengah hari yang panas antara pukul
11 sampai pukul 14 sering terjadi undulasi, yaitu udara di permukaan bumi yang
bergerak naik karena panas (fatamorgana). Jika rambu ukur didirikan di tempat
yang demikian, maka apabila dibidik dengan teropong akan kelihatan seolah-olah
rambu tersebut bergerak bergelombang-gelombang, sehingga sukar sekali untuk
menentukan angka mana yang berimpit dengan garis bidik atau benang silang.
Sehingga apabila terjadi undulasi sebaiknya pengukuran dihentikan.
d)
Kesalahan karena kondisi tanah tidak
stabil
Akibat kondisi tanah tempat berdiri alat atau rambu
tidak stabil, maka setelah pembidikan ke rambu belakang, pengamat pindah posisi
untuk mengamat ke rambu muka ketinggian alat atau statif akan mengalami
perubahan sehingga beda tinggi yang didapat akan mengalami kesalahan. Untuk
itu, hendaknya tempat berdiri alat dan rambu harus betul-betul stabil atau
rambu rambu diberi alas rambu.
Penyetelan
Alat
Sebelum
dipakai, pesawat harus di stel terlebih dahulu, seperti :
1.
Pasang kaki statif terlrbih dahulu dan
usahakan posisi dari kaki tersebut datar.
2.
Pesawat di letakkan diatas statif dengan
memutar sekrup pengunci yang ada di kaki statif tersebut
3.
Setel nivonya dan usahakan pas di tengah
– tengah supaya mendapatkan hasil ketelitian yang maksimal. Untuk menyetel nivo
dapat menggerakkan sekrup yang ada pada pesawat atau dengan cara lain yaitu
dengan menggerakkan kaki statif naik – turun.
4.
Usahakan teropong menghadap titik
pertama yang akan kita tembak / baca dengan sudut 0 dan setelah menembak
titik tersebut, maka pesawat diputar searah jarum jam sehingga membentuk sudut
180 .
Cara
Pengukuran
1.
Kita tempatkan dua rambu ukur pada titik
yang telah ditentukan sebelumnya, kemudian taruh baak ukur ketitik mula – mula,
misalkan titik BM ke titik A. Ukur kedua jarak tersebut.
2.
Kita tempatkan pesawat di tengah –
tengah antara titik BM dan titik A.
3.
Pesawat kita arahkan ke titik BM
kemudian kita baca BA, BT ,dan BB dan bacaan tersebut diberi nama bacaan belakang.
Selanjutnya pesawat diputar searah jarum jam ke titik A kemudian dibaca BA, BT,
dan BB dan dinamakan bacaan muka.
4.
Untuk pengukuran melintang, pesawat kita
letakkan pada titik A. Kemudian kita letakkan beberapa rambu pada beberapa
tempat dengan arah yang sama dan mengikuti arah melintang dari titik – titik
arah memanjang.
5.
Setelah itu pesawat kita pindahkan ke
tengah – tengah antara titik A dan titik B. Kemudian pesawat kita arahkan ke
titik A kemudian kita baca BA, BT, dan BB dan dinamakan bacaan belakang.
Seterusnya pesawat kita putar dengan searah jarum jam ke titik B kemudian di
baca BA, BT, dan BB dan dinamakan bacaan muka.
6.
Pesawat kita pindahkan ke titik B untuk
pengukuran melintang dengan cara yang sam seprti diatas.
7.
Selanjutnya pesawat di pindahkan lagi
ketitik selanjutnya untuk pengukuran memanjang dengan cara yang sama seperti
diatas. Setelah itu dilanjutkan dengan pengukuran melintang. Begitu seterusnya
sampai titik terakhir dan dilanjutkan dengan pengukuran memanjang pulang.
8.
Diadakan perhitungan, sehingga beda
tinggi dan jarak serta elevasi dapat ditentukan dengan rumus yang ada.
III.
PENGUKURAN
LAPANGAN
3.1.
Alat
Dan Bahan
1. Sipat
datar (Waterpass)
2. Rambu
ukur (2 buah)
3. Statip
4. Kalkulator
(alat pembukur)
5. Formulir
3.2.
Langkah
Kerja
1. Siapkan
alat-alat yang akan digunakan untuk praktikum, antara lain : waterpass, statif,
rambu ukur, formulir pengukuran beda tinggi untuk mencatat hasil yang didapat
2. Didirikan
statif dengan mengendorkan ketiga mur yang menempel pada kaki-kakinya.
3. Buka
waterpass dari tempatnya, kemudian pasangkan waterpass itu pada statifnya,
dengan mengencangkan mur yang ada dibawah piringan statif ke kiap waterpass
4. Datarkan
pula Nivo tabungnya, dengan cara memutar mur yang ada pada kiap pada arah yang
berlawanan antara satu mur dengan mur yang lainnya.
5. Setelah
nivo tabung sudah datar maka kita menyiapkan target yang akan dibidik, yaitu
suatu titik yang ingin diketahui beda tingginya dari titik yang lain. Dengan
cara memasang rambu ukur pada titik yang ingin diketahuin tinggi dan jaraknya
dari suatu titik. Disini kita akan mengukur beda tinggi dari BM ke BM. Dari BM
ke BM ini akan kita buat menjadi 2 slag pergi dan 2 slag pulang.
6. Setelah
waterpass dan target sudah siap maka kita sudah bisa melakukan pengukuran.
7. Bidikkan
teropong pas mengenai target yang akan diukur dengan mempergunakan pencari
target yang ada diatas / dibawah teropong.
8. Sesudah
teropong pas mengenai target maka kuncilah teropong dengan pengunci horizontal.
9. Sesudah
kunci horizontal terkunci maka lihat apakah targetnya sudah terlihat (focus)
kalau belum focus, fokuskan dulu sampai taget terlihat dengan jelas. Lalu lihat
lagi apakah benang halus sudah kelihatan? (benang atas, benang bawah, dan
benang tengahnya sudah kelihatan) kalau belum, atur focus benang halus sampai
kelihatan dengan jelas.
10. Sesudah
target terlihat dengan jelas (focus) dan benang halusnya sudah terlihat pula.
Lihat apakah benang halusnya sudah pas pada target? Kalau belum, gerakan
teropong kearah horizontal dengan gerak halus horizontal. Buat sedemikian rupa
agar si benang halus sejajar dengan tengah rambu ukur.
11. Sesudah
benang halus sejajar dengan rambu ukur pada target a (target belakang) maka
yang pertama kita lakukan adalah membaca berapa besarnya benang tengah,
kemudian secara berurutan kit abaca besarnya benang atas dan benang bawah.
12. Kemudian
kita mengukur target b (target depan), pertama kita lakukan adalah membaca
benang tengahnya terlebih dahulu, kemudian secara berurutan kita membaca benang
atas dan benang bawahnya.
13. Setelah
pengukuran a dan b dengan mengukur benang tengah, benang atas, dan benang
bawahnya dari tempat berdiri 1 (stand 1) maka untuk selanjutnya kita pindahkan
tempat berdiri kita ke tempat 2 (stand 20 hanya untuk mengukur benang tengahnya
saja.
14. Maka
kita dapat memperoleh beda tinggi yang kedua dari pengukuran benang tengah a
dikurangi benang tengah b yang diukur dari pengukuran 2 (stand 2).
IV.
DATA
4.1.
Data
Lapangan
No. Titik Ukur
|
Pembacaan Benang
|
|||
Tengah
|
Atas & Bawah
|
|||
Belakang
|
Muka
|
Belakang
|
Muka
|
|
A
|
1,362
|
1,378
|
1,385
|
1,402
|
1
|
1,340
|
1,352
|
||
1
|
1,400
|
1,385
|
1,425
|
1,409
|
B
|
1,375
|
1,360
|
||
4.2.
Pengolahan
Data
1.
Menentukan
jarak dan beda tinggi
TITIK A

TITIK A
TITIK B
2. Menentukan beda tinggi pada slag
3. beda tinggi seksi

2. Menentukan beda tinggi pada slag
Hanya ada satu slag
baik pulang maupun pergi sehingga langsung didapat :
DHAB pergi = -0.016 DHBA
pulang = 0,015
4.3.
Hasil
No. Titik Ukur
|
Pembacaan Benang
|
Jarak
|
Beda Tinggi
|
Tinggi Titik
|
||||||
Tengah
|
Atas & Bawah
|
|||||||||
Belakang
|
Muka
|
Belakang
|
Muka
|
Belakang
|
Muka
|
Jumlah
|
Ukuran
|
Rata-Rata
|
||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
A
|
1,362
|
1,378
|
1,385
|
1,402
|
4,5
|
5
|
9,5
|
-0.016
|
-0.016
|
|
1
|
1,340
|
1,352
|
||||||||
1
|
1,400
|
1,385
|
1,425
|
1,409
|
5
|
4,9
|
9,9
|
0,015
|
0,015
|
-0.001
|
B
|
1,375
|
1,360
|
||||||||
V. Analisis dan Kesimpulan
5.1.
Analisis
Pengukuran
beda tinggi pada prakrikum ini dilakukan di depan gedung jurusan teknik elekro
dengan titik A dan Titik B yang dibagi 2 stand dengan alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah waterpass.
Waterpass
ini diatur terlebih dahulu, kaki tiga ditegakkan sedemikian rupa agar seimbang
serta garis bidik harus dibuat sejajar dengan garis arah nivo agar hasil yang
didapatkan teliti. Lalu rambu ditegakkan pada titik yang akan diukur, rambu
harus betul-betul vertical. Dan pengukuran pundilakukan dengan memperhatikan
benang atas, benang bawah dan benang tengahnya.
Pada
pengukuran pertama dilakukan pengukuran pergi pada titik A (titik awal) dilihat
dengan waterpass dari titik 1 (pertengahan dari pertengahan AB), didapat hasil
pengukuran lapangan 1,385 untuk benang atas, 1,340 benang bawahnya serta benang
tengahnya sebesar 1,362 yang telah beberapa kali dikoreksi agar perbedaannya
tidak jauh dari 0,002 m, dimana bukannya hanya untuk benang tengah ini, tetapi
benang tengah semuanya yang berarti beberapa kali diukur (bukan hanya sekali
pengukuran).
Masih
pada titik yang sama (waterpass belum dipindahkan), pengukuran dilakukan untuk
titik 2 (pertengahan titik AB). Dari pengukuran ini didapat nilai 1,402 ; 1,352
; 1,378 ; masing-masing untuk harga benang atas, benang bawah dan benang
tengahnya.
Pengukuran
dilanjutkan dengan memindahkan waterpass ke titik 3 (pertengahan dari
pertengahan BA). Kemudian diawali dengan pengukuran pulang dititik 2 (pertengahan
titik AB) yang mendapatkan harga harga benang atasnya 1,425 ; 1,375 untuk
benang bawah dan benang tengahnya sebesar 1,400.
Pengukuran
terakhir tidak memindahkan waterpass dan menghitung titik B (titik akhir)
dengan hasil 1,409 ; 1,360 ; 1,385 ; masing-masing untuk harga benang atas,
benang bawah dan benang tengahnya.
Dengan
data pengukuran dilapangan diatas dilakukanlah perhitungan agar didapat
perbedaan tinggi titik A dan titik B. Dimulai dengan menghitung jarak dan beda
tinggi dimasing-masing titik. dbelakang didapatkan dari mengurangkan
benang atas dengan benang bawah bagian belakang lalu dikalikan seratus, dari
rumus ini didapat dbelakang titik A sebesar 4,5m dan 5 meter untuk
titik B.
Dari
rumus-rumus yang telah tertera pada perhitungan didapatlah nilai-nilai dmuka,
Dd,
Dh
(ukuran) dan Dh (rata-rata) titik A dan
titik B. Untuk Dh (rata-rata) nilaninya akan
sama dengan Dh
(ukuran) karena hanya mempunyai satu data.
Untuk
beda tinggi pada slag hasilnya akan sama dengan Dh (ukuran)
atau pun Dh
(rata-rata) karena hanya ada satu buah slag yaitu DHAB
pergi = -0.016
dan DHBA
pulang = 0,015. Sehingga pada
perhitungan terakhir didapatlah beda tinggi titik A dan titik B adalah -0,001 m
(tanda minus menandakan bahwa titik B lebih tinggi dari titik A)
5.2.
Kesimpulan
Dari praktikum diatas
praktikan dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.
Waterpass adalah alat untuk mengukur
beda tinggi antara dua titik.
2.
Sipat datar (Spirit levelling) adalah
suatu operasi untuk menentukan beda tinggi antara dua titik di permukaan tanah,
yang biasa digunakan dalam pembuatan jalan maupun pembangunan.
3.
Fungsi dari pengukuran beda tinggi ini,
antara lain :
a)
Merancang jalan raya, jalan baja, dan
saluran-saluran yang mempunyai garis gradien paling sesuai dengan topografi
yang ada.
b)
Merencanakan proyek-proyek konsruksi
menurut evaluasi terencana.
c)
Menghitung volume pekerjaan tanah.
d)
Menyelidiki ciri-ciri aliran di suatu
wilayah.
e)
Mengembangkan peta-peta yang menunjukkan
bentuk tanah secara umum.
4.
Titik A dan Titik B memiliki beda tinggi
sebesar -0,001 m (tanda minus menandakan bahwa titik B lebih tinggi dari titik A)
VI.
Daftar
Pustaka
Davis.
1965. Surveying. John Willey & Sons. New York
BukuCatatan
Pelajaran “Pengukuran Beda Tinggi dengan PPD Cara Memanjang”. Oleh : Rahman
Rachmadhani dan Bersumber dari : Paulus M,Pd.
Departemen
Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruam, Kurikulum Edisi
1999 , Jakarta
Soetomo
Wongsotjitro. 1992 Ilmu Ukur Tanah. Kanisius, Jogayakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar