TUGAS
DAUR ULANG DAN PEMANFAATAN LIMBAH
PAPER PROYEK ENVCYCLE
OLEH
Nama :
Delta Fitri Sari
NRP :
25-2011-040
Koordinator Bidang Pengumpulan dan Pengolahan Data
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TENIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2014
Bidang-Bidang
Proyek EnvCycle
1)
Ketua
Pelaksana : Arina Nur Azizah (25-2011-010)
Jobdesc :
Mengkordinir
setiap bidang dan memastikan terlaksananya jobdesc tiap bidang agar proyek
keseluruhan dapat berlangsung.
2)
Seretaris : Ikrima Nurul Amalia (25-2011-042)
Jobdesc
:
Sekretaris
bertugas merekapitulasi hasil rapat, membuat proposal dan membuat laporan
pertanggung jawaban (LPJ) proyek EnvCycle.
3)
Bendahara : Siti Hajar Cahayani (25-2011-027)
Jobdesc
:
Mengatur,
mencatat, menyusun dan membuat segala bentuk anggaran pemasukan dan pengeluaran
keuangan selama kegiatan EnvCycle berlangsung.
4)
Bidang
Pengumpulan dan Pengolahan Data
Koordinator : Delta Fitri Sari (25-2011-040)
Anggota : Sara Nissa Fauzan (25-2011-007)
Mayang Afi Fadiyah (25-2011-038)
Maria Lodo Fika Rau (25-2012-047)
Jobdesc
:
·
Mengumpulkan
data kondisi eksisting pengelolaan sampah yang ada di gedung 8 lantai 2 dan
ruang himpunan berupa sumber sampah, timbulan sampah dan komposisi sampah serta
pewadahan yang ada.
· Mengolah
data kuisioner untuk responden gedung 8 lantai 2 dan ruang himpunan untuk
keperluan konten sosialisasi.
5)
Bidang
Guideline
Koordinator : Dewi Komalasari (25-2011-037)
Anggota : Citra Permata Sari (25-2011-011)
Notia Anindya Putinila (25-2011-014)
Putri Safria (25-2011-016)
Julia Putri Adani (25-2011-044)
Jobdesc
:
·
Menyusun
tata cara pemilahan sampah
·
Membuat
petunjuk bagi warga gedung 8 untuk membuang sampah
6)
Bidang
Sosialisasi dan Workshop
Koordinator : Rindu Wahyu Paramita (25-2011-017)
Anggota : Astri Irma Safitri (25-2011-004)
Finka Ayu Pratiwi (25-2011-018)
Innike Dwi Putri (25-2011-019)
Rizki Amalia Ananda (25-2011-035)
Jobdesc
:
·
Membuat
propaganda pra pelaksanaan
·
Membuat
dan menyebarkan kuisioner untuk diolah bidang pengumpulan dan pengolahan data
·
Mendesain
poster dengan konten dari bidang guide line
·
Mensosialisasikan
program Recycle Project kepada warga gedung 8 lantai 2.
7)
Bidang
Prototype dan Implementasi
Koordinator : Dewi Nur Adiyanti (25-2011-015)
Anggota : Felza Hanggara Odefa (25-2010-010)
Sri Wisnu Wardhana (25-2010-030)
Mohammad Arditya (25-2011-005)
Aditya Fajrin (25-2011-032)
Ratna Mutia Sari (25-2011-041)
Jobdesc
:
·
Membuat desain prototype untuk tempat daur ulang.
·
Membuat prototype berdasarkan data dari bidang
pengumpul dan pengolahan data.
·
Launching project bekerjasama dengan bidang
sosialisasi.
Tujuan Proyek EnvCycle
Tujuan
adanya proyek daur ulang di gedung ini adalah :
a. Penerapan
pengelolaan sampah yang sesuai dengan PP No.81 Tahun 2012 Tentang “Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga”, pasal
10 dan 11 di gedung 8.
b. Sebagai
percontohan penanganan sampah dilingkungan gedung 8 ITENAS.
c.
Membudayakan
memilah dan mengolah sampah.
d. Mengolah
sampah yang dominan dari timbulan sampai di gedung 8 yaitu
botol plastik dan sampah organik.
Ruang Lingkup Proyek EnvCycle
Penerapan
konsep recycle di gedung 8 lantai 2 dan
ruang Himpunan TL dengan mengacu pada PP No.81 Tahun 2012 Tentang “Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah RumahTangga”, dan guideline yang dibuat sesuai dengan peraturan dan kondisi eksisting timbulan sampah di gedung 8,
dengan mengadakan pemilahan menjadi 4 jenis sampah yaitu sampah botol air
mineral, sampah sisa makanan, kertas dan residu, dan pengolahan sampah yg
paling dominan yaitu sampah botol plastik dan sampah organik.
Pengumpulan
data sekunder yang dibutuhkan adalah :
a.
Data
timbulan sampah gedung 8
b.
Data
fasilitas tempat sampah yang ada
c.
Kuisioner
Bentuk Proyek EnvCycle
Bentuk
proyek EnvCycle berupa :
a. Pembuatan
prototype
b. Sosialisasi
c. Monitoring
Program dari proyek EnvCycle berupa :
a.
Meminimasi pemakaian
botol plastik. Merubahnya dengan membawa tumbler tiap individu.
b.
Menyediakan galon air
mineral sebagai upaya reduksi terhadap timbulan sampah
c.
Peremajaan fasilitas
pewadahan tempat sampah yang ada di gedung 8
d.
Melakukan pemilahan
sampah
e.
Melakukan pengomposan
sampah organik
f.
Menjual botol plastik
Teori Penunjang
PENGERTIAN LIMBAH
Limbah adalah benda yang dibuang, baik berasal dari alam
ataupun dari hasil proses teknologi. Limbah dapat berupa tumpukan barang bekas,
sisa kotoran hewan, tanaman, atau sayuran. Limbah adalah buangan yang
dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah
tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah), yang kehadirannya pada suatu saat
dan tempattertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai
ekonomis.
Karakteristik Limbah :
1)
Berukuran mikro
2)
Dinamis
3)
Berdampak luan (penyebarannya)
4)
Berdampak jangka panjang (antar
generasi)
Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah :
1)
Volume limbah
2)
Kandungan bahan pencemar
3)
Frekuensi pembuangan limbah
JENIS-JENIS LIMBAH
Berdasarkan sumbernya limbah digolongkan menjadi :
1)
Limbah Organik yang mudah busuk.
Misainya, sisa sayuran, sisa makanan, dedaunan, potongan rumput, dan kotoran
hewan .
2)
Limbah Organik yang tidak mudah
membusuk. Misalnya , kertas dan kayu.
3)
Limbah Anorganik. Misainya, plastik,
pecahan kaca, karet, kaca, botol, dan besi.
4)
Limbah berbahaya. Misalnya, paku,
bekas lampu neon, sisa racun tikus atau serangga, obat kadaluarsa dan batu
baterai bekas.
Limbah B3 Berdasarkan sifatnya, limbah dibedakan menjadi dua
golongan :
1)
Limbah yang dapat mengalami
perubahan secara alami (degradable waste = mudah terurai). Yaitu limbah yang
dapat mengalami dekomposisi oleh bakteri dan jamur, seperti daun-daun, sisa
makanan, kotoran, dan lain-lain.
2)
Limbah yang tidak akan / sangat
lambat mengalami perubahan secara alami (nondegradable waste = tidak dapat
terurai). Misalnya, plastik, kaca, kaleng, dan sampah sejenisnya.
Berdasarkan karakteristiknya, limbah dapat digolongkan
menjadi 4 macam, yaitu :
1)
Limbah cair . Limbah cair adalah
sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP 82 thn. 2001).
2)
Limbah padat
3)
Limbah gas dan partikel
4)
Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan
Beracun)
PENGERTIAN DAUR ULANG
Daur ulang mempunyai pengertian
sebagai proses menjadikan bahan bekas atau sampah menjadi menjadi bahan baru
yang dapat digunakan kembali. Dengan proses daur ulang, sampah dapat menjadi
sesuatu yang berguna sehingga bermanfaat untuk mengurangi penggunaan bahan baku
yang baru. Manfaat lainnya adalah menghemat energi, mengurangi polusi,
mengurangi kerusakan lahan
dan emisi gas rumah kaca
dari pada pada proses pembuat barang baru.
Daur ulang yang merupakan bagian
ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce, and Recycle dan dapat dilakukan pada
sampah kaca, plastik, kertas, logam, tekstil, maupun barang elektronik.
Daur ulang adalah sesuatu yang luar
biasa yang bisa didapatkan dari sampah. Sebagai contoh, proses daur ulang
alumunium diyakini mampu menghemat energi hingga 95 persen dan mengurangi polusi udara
hingga lebih dari 90 persen dibandingkan proses pembuatan alumunium dari bahan
mentah (bijih tambang).
Pengertian Daur Ulang Proses untuk
menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya
sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi
penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi
polusi,kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses
pembuatan barang baru.
PENERAPAN 3R DALAM KEHIDUPAN
SEHARI-HARI
Penerapan 3R dapat dilakukan oleh
setiap orang dalam kegiatan sehari-hari. 3R terdiri dari Reuse, Reduce, dan
Recycle. Reuse berarti menggunakan
kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi
lainnya. Reduce berarti mengurangi
segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Recycle berarti mengolah kembali
(daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.
Contoh kegiatan reduce sehari-hari :
·
Memilih produk dengan kemasan yang
dapat didaur ulang.
·
Hindari memakai dan membeli produk
yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar.
·
Menggunakan produk yang dapat diisi
ulang (refill). Misalnya alat tulis yang bisa diisi ulang kembali).
·
Mengurangi penggunaan bahan sekali
pakai.
·
Menggunakan email (surat elektronik)
untuk berkirim surat
·
Memilih wadah, kantong atau benda
yang dapat digunakan beberapa kali atau berulangulang. Misalnya, menggunakan
sapu tangan dari pada menggunakan tissu, menggunakan tas belanja dari kain dari
pada menggunakan kantong plastik.
·
Menggunakan alat-alat penyimpan elektronik
yang dapat dihapus dan ditulis kembali.
·
Menggunakan sisi kertas yang masih
kosong untuk menulis.
·
Memilih produk dan kemasan yang
dapat didaur ulang dan mudah terurai.
·
Mengolah sampah kertas menjadi
kertas atau karton kembali.
·
Melakukan pengolahan sampah organik
menjadi kompos
PROSES DAUR ULANG
Proses atau Tahapan Daur Ulang. Berikut ini merupakan
tahap-tahap dari kegiatan daur ulang yang dapat sobat lakukan:
· Mengumpulkan; yakni mencari
barang-barang yang telah di buang seperti kertas, botol air mineral, dus susu,
kaleng dan lain-lainya.
· Memilah; yakni mengelompokkan
sampah yang telah dikumpulkan berdasarkan jenisnya, seperti kaca, kertas, dan
plastik.
· Menggunakan Kembali; Setelah
dipilah, carilah barang yang masih bisa digunakan kembali secara langsung.
Bersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.
· Mengirim; Kirim sampah yang
telah dipilah ke tempat daur ulang sampah, atau menunggu pengumpul barang bekas
keliling yang akan dengan senang hati membeli barang tersebut.
· Lakukan Daur Ulang Sendiri;
Jika mempunyai waktu dan ketrampilan kenapa tidak melakukan proses daur ulang
sendiri. Dengan kreatifitas berbagai sampah yang telah terkumpul dan dipilah
dapat disulap menjadi barang-barang baru yang bermanfaat.
MANFAAT DAUR ULANG
Kegiatan daur ulang yang diaksanakan memeiliki manfaat sebagai berikut
1)
Meciptakan lingkungan bersih
2)
Mengurangi bakteri2 yang terdapat di barang2 yang tidak
terpakai
3)
Dari pada dibakar, pendauran ulang lebih safety karena tidak
menimbulkan polusi
4)
Menciptakan nilai pada suatu barang yang tidak bernilai
sebelumnya
5)
Menciptakan inovasi yang lebih brilian, misalnya dengan
menggabungkan barang 1 dengan yang lain
6)
Dari pada ditimbun, pendauran ulang akan lebih menguntungkan
tanah, misalnya pada kaleng2 bekas yang bersifat logam,apabila ditimbun akan
merusak unsur2 hara yang terkandung di dalam tanah yang baik bagi tumbuhan
7)
Modal yeng dikeluarkan sebagai alat pendaur relatif sedikit
8)
Caranya yang gampang sehingga dapat dilakukan sendiri
9)
Jumlah bahan² yang tak dapat diuraikan yang beredar menjadi
lebih sedikit
10)
Dapat menjadi cara alternatif dalam memenuhi kebutuhan
ekonomi.
TUJUAN DAUR ULANG DAN PEMANFAATAN ULANG
Daur ulang dan pemanfatan ulang mempunyai beberapa tujuan,
antara lain sebagai berikut :
1)
Mengurangi jumlah limbah untuk
mengurangi pencemaran atau kerusakan lingkungan.
2)
Mengurangi penggunaan bahan atau
sumber daya alam.
3)
Mendapatkan penghasilan karena dapat
dijual ke masyarakat .
4)
Melestarikan kehidupan makhluk yang
terdapat di suatu lingkungan tertentu.
5)
Menjaga keseimbangan ekosistem
makhluk hidup yang terdapat di dalam lingkungan.
6)
Mengurangi sampah anorganik karena
sampah anorganik ada yang dapat bertahan hingga 300 tahun ke depan.
7)
Mendapatkan
sumber energi alternatif. misalnya, sebagai sumber pembangkit listrik.
8)
Mendapatkan
bahan baku untuk beberapa produk.
PEMANFAATAN LIMBAH
Pemanfaatan
Limbah Melalui Daur Ulang Salah satu cara untuk memecahkan persoalan limbah
adalah dengan cara mendaur ulang (recycling ). Daur ulang adalah penggunaan
kembali material atau barang yang sudah tidak terpakai menjadi produk lain yang
bermanfaat. Pemanfaatan Limbah Tanpa Daur Ulang Sebagian limbah ada yang
dapat dimanfaatkan kembali tanpa mengalami proses daur ulang. Artinya, limbah
tersebut dapat dimanfaatkan secara langsung.
Beberapa
macam limbah yang dapat dimanfaatkan secara langsung :
· Ampas
tahu dapat digunakan sebagai bahan makanan ternak. Limbah tersebut biasanya
mengandung gizi tinggi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan hewan
ternak.
·
Eceng
gondok merupakan limbah yang terdapat di perairan. Eceng gondok dapat
dimanfaatkan untuk pembuatan barang kerajinan, seperti tas.
· Sampah
organik Contohnya : daun-daunan dan kotoran ternak. Kedua jenis sampah itu
dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami bagi pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Keuntungan pemakaian pupuk organik adalah tidak merusak kesuburan
tanah.
PENGURANGAN LIMBAH
Usaha-usaha untuk mengurangi sampah atau
limbah:
· Reduce,
yaitu kegiatan/perilaku yang dapat mengurangi produksi sampah. Contoh: Jika
berbelanja ke pasar, bawalah tas dari rumah sehingga turut menghemat pemakaian
tas plastik dari toko/penjual.
· Reuse,
Menggunakan kembali barang bekas tanpa pengolahan bahan, untuk tujuan yang sama
atau berbeda. Contoh : kaleng bekas minuman digunakan sebagai tempat pensil,
plastik bekas belanja digunakan lagi untuk membawa belanjaan dilain
waktu.
· Recycle,
Kegiatan yang memanfaatkan barang bekas dengan cara mengolah materinya untuk
digunakan lebih lanjut. Contoh : Kertas daur ulang dan kompos.
· Replace,
Upaya mengubah kebiasaan yang dapat mempercepat produksi sampah Contoh :
mengganti kebiasaan memakai kantong plastik dengan kertas /daun.
· Refill,
Mengisi kembali wadah-wadah produk yang dipakai. Contoh : Membeli minyak
goreng, sabun, susu, atau yang lain yang ada wadahnya, sehingga pada kesempatan
yang lainnya belilah hanya isinya, karena wadahnya sudah tersedia.
· Repair,
Melakukan pemeliharaan atau perawatan agar tidak menambah produksi limbah.
Contoh : Menggunakan peralatan rumah tangga yang terbuat dari plastik atau
pecah belah dengan hati-hati agar tidak cepat rusak.
MACAM-MACAM
LIMBAH YANG DAPAT DIMANFAATKAN TANPA PROSES DAUR ULANG
Beberapa
jenis limbah ada yang dapat dimanfaatkan secara langsung atau pun dilakukan
melalui proses daur ulang. Berikut ini beberapa macam limbah yang dapat
dirasakan atau dimanfaatkan secara langsung.
1)
Ampas
tahu
Ampas tahu bisa digunakan
untuk bahan makanan ternak. Limbah tersebut biasanya mengandung gizi tinggi
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan hewan ternak.
2)
Eceng
gondok
Eceng gondok dapat
menjadi limbah perairan jika populasinya terlalu banyak. Eceng gondok dapat
dimanfaatkan untuk membuat barang kerajinan, seperti tas.
3)
Sampah
organik
Contohnya daun-daunan dan
kotoran ternak. Kedua jenis sampah itu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami
bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Keuntungan menggunakan pupuk organik
yaitu tidak merusak kesuburan tanah.
POTENSI DAUR ULANG SAMPAH
Daur Ulang Kertas Bekas
Di
negara maju kertas merupakan komponen sampah yang paling tinggi. Bersama dengan
wadah karton gelombang serta boxboard, jumlahnya sekitar 25 – 40 %
berat. Beberapa jenis kertas yang dijumpai dalam sampah adalah:
· Kertas
campuran: kertas beraneka ragam dengan kualitas yang bervariasi, seperti
majalah, buku, arsip kantor, karton, kertas pembungkus.
·
Karton
bergelombang Kertas kraft putih maupun berwarna yang belum dicetak.
·
Kertas
koran: surat kabar
Masing-masing
mempunyai tingkat kualitas tertentu, tergantung pada jenis serat, sumber,
homogenitas, cetakan yang ada, karakteristik fisik dan kimia. Kertas
berkualitas tinggi, seperti kertas komputer, kertas kantor, mempunyai serat
panjang dengan persentase tinggi.Prinsip daur ulang kertas secara sederhana
yang banyak dijumpai di Indonesia, khususnya pada sektor informal adalah:
· Kertas
direndam dalam air hingga menjadi lembut untuk memudahkan proses penghancuran
menjadi bubur kertas.
· Bubur
kertas yang terbentuk diletakkan dalam suatu cetakan dengan ukuran tertentu.
· Setelah
tercetak, kertas yang masih basah dikeluarkan dari cetakan kemudian dikeringkan
di terik matahari.
Untuk
skala besar, digunakan mesin pencetak daur ulang kertasDaur Ulang Plastik
Walaupun plastik telah dipakai lebih dari 50 tahun yang lalu, namun penggunaannya sebagai packaging meningkat secara tajam dalam 25 tahun terakhir ini. Hampir semua plastik packaging akhirnya dibuang, sehingga jumlahnya dalam sampah meningkat dari 3 % berat (1970-an) menjadi 7 % (1990-an). Penggunaan plastik sebagai packaging mempunyai keunggulan dibanding yang lain, baik sebagai bahan kontainer (wadah) maupun sebagai pembungkus, karena:
·
Lebih
ringan
·
Lebih
kuat
·
Lebih
mudah dibentuk
·
Dapat
diatur agar fleksibel atau kaku Merupakan isolator yang baik
·
Dapat
digunakan untuk pengemas makanan dingin atau panas
Bahan plastik dijumpai
pada sampah kota dalam 7 jenis:
·
Polyethylene terephthalate (PETE/1):
Didaur
ulang sebagai fiber polyester untuk sleeping bag, bantal,
baju dingin Post consumer PETE digunakan untuk fiberkarpet,
film, kontainetr makanan, plastik otomotif
Dari
daur-ulang konvensional, sekarang
terdapat
upaya pembuatan botol depolymerisasi menjadi ethylene glycol danterephthalic
acid, kemudian repolimerisasi menjadi resin botol soft drink,
misalnya coca-cola
·
High-density polyethylene (HDPE/2): Sifatnya
berbeda satu dengan lain tergantung produk yang akan dihasilkan Botol susu dari
resin dengan indeks leleh rendah
HDPE
rigid terbuat dari resin dengan indeks leleh yang tinggi
Misalnya
digunakan pada lapis dalam dari botol oli yang terdiri dari 3 lapis
·
Polyvinyl chloride (PVC/3):
Banyak
digunkan untuk packaging makanan, kabel listrik, isolasi kabel, pipa
plastic, embe
Produk
daur-ulang lain: kontainer non – makanan, floor tile, selang kebun,
mainan, pot bunga, pipa drainage
· Low-density polyethylene (LDPE/4): misalnya untuk packaging
makanan. Sebagian besar berakhir pada sampah dan landfill.
· Polypropylene (PP/5): biasanya untuk
bungkus batere, tutup botol, label, atau kadangkalan untuk kontainer makanan.
·
Polystyrene
(PS/6)
·
Lain-lain
bahan -bahan plastik multilayer (7)
Disamping itu, plastik
biasanya diklasifikasi dalam 2 katagori umum, yaitu:
·
Clean commercial grade scrape (plastik awal)
·
Post consumer scrap (plastik limbah)
·
Dua
jenis plastik post consumer yang paling sering didaur ulang adalah PETE(1),
yang banyak digunakan untuk botol soft drink , dan HDPE(2), biasanya
untuk wadah susu, botol air kemasan, atau pembungkus detergen.
Beberapa permasalah pemasaran plastik:
·
Harga
plastik daur-ulang relatif murah, karena bahan bakunya juga relatif murah.
Perlu ada insentif untuk pengangkutan
·
Pengangkutan
dan pengolahan plastik bekas belum tersedia secara luas, sehingga konsumer
kesulitan menemukan outletnya
·
Specific weight yang rendah: rasio
volume-keberat plastik sangat tinggi, terutama PS untuk produk busa spons.
·
Terkontaminasi
dengan bahan lain seperti makanan, dsb yang menyulitkan dalam daur ulang nya
Pengolahan plastik secara profesional meliputi:
·
Tahap
bale breaking dansorting:
Pemilahan
awal (presorted) dipecahkemudian dipilah kembali
Botol
PETE misalnya secara manual dipisah berdasarkan warna. Plastik yang tidak
diinginkan dibuang.
·
Granulation dan washing:
Botol
dipotong-potong, kemudian dicuci dengan air panas, detergen, diaduk untuk
menghilangkan label, lem dan kotoran lainnya
Pemisahan:
setelah dicuci, diendapkan (PETE) sedang yang ringan (HDPE) mengapung.
Pengeringan:
untuk menghilangkan air, kemudian dikeringkan dengan udara panas agar
kelembaban mejadi lebih kecil dari 0,5 %
Air classification: pemisahan bagian
plastik ringan (missal tutup polypropylene) dengan yang berat
Pemisahan
electrostatic: missal memisahkan tutup alumunium
Ekstrusi
resin: resin kemudian difluidisasi menggunakan extruder, dan
dilelehkan, dikenal sebagai melt filtration
· Pelletizing: melt extruder berbentuk
seperti spageti. Selanjutnya melalui orifice, kemudian dipotong
kecil-kecil, lalu didinginkan dengan air. Pelet dipasarkan dengan kadar air
kurang dari 0,5 %.
Pengolahan plastik sederhana di sektor informal di Indonesia:
·
Plastik
bekas yang terkumpul, dikeringkan melalui matahari kemudian ditutup dengan ram
kawat agar plastik (terutama plastik kresek) tidak beterbangan.
·
Setelah
kering, plastik dimasukkan dalam cetakan kemudian dipanaskan/dibakar di dalam
tungku pembakar sampai terbentuk cairan plastik.
·
Cairan
plastik yang terbentuk kemudian didinginkan dengan direndam dalam air.
·
Setelah
dingin, lembaran plastik dikeluarkan dari cetakan. Cetakan yang digunakan
berupa logam agar plastik cair tidak lengket
PERAN SEKTOR INFORMAL DI INDONESIA
Daur ulang sampah di Indonesia banyak dilakukan oleh sektor informal, terutama oleh pemulung, mulai dari rumah tangga sampai ke TPA. Tetapi metode daur ulang yang dilakukan oleh pemulung terbatas pada pemisahan atau pengelompokan. Berdasarkan komposisinya, sampah terbagi dalam dua kategori besar, yaitu sampah organic (atau sampah basah) dan sampah anorganik (atau sampah kering). Dari komposisi sampah tersebut, para pemulung memungut sampah anorganik yang masih bernilai ekonomis dan dapat didaur ulang sebagai bahan baku industri atau langsung diolah menjadi barang jadi yang dapat dijual. Barang-barang buangan yang dikumpulkan oleh para pemulung adalah yang dapat digunakan sebagai bahan baku primer maupun sekunder bagi industri tertentu. Bahan-bahan anorganik yang biasa dipungut oleh para pemulung mencakup jenis kertas, plastik, metal/logam, kaca/gelas, karet, dan lain-lain. Sampah yang dipisahkan umumnya adalah sampah yang dapat dimanfaatkan kembali secara langsung, misalnya sampah botol, kardus, koran, barang-barang plastik, dan sebagainya. Terdapat pula aktivitas pemilahan sampah sisa makanan dan/atau sampah dapur yang dapat digunakan sebagai makanan ternak, bahan kompos dan sebagainya, seperti terlihat di Denpasar.
Berdasarkan cara kerja pemulung yang sebagian besar beroperasi di kawasan-kawasan pemukiman, pasar, perkantoran maupun di TPS sampai ke TPA, maka dapat dikatakan bahwa sampah anorganik yang diserap oleh pemulung merupakan sampah yang belum dapat tertanggulangi oleh Pemerintah Daerah. Hal ini di satu sisi menunjukkan bahwa kegiatan pemulungan memberikan kontribusi kepada Pemerintah Daerah dalam hal penanganan sampah. Namun di sisi yang lain, bantuan kegiatan pemulungan terhadap penaggulangan masalah sampah menjadi tidak nyata terasa manfaatnya, karena mungkin Pemerintah Daerah menganggap bahwa kegiatan pemulungan merupakan hal yang sudah semestinya terjadi, dengan mengabaikan segi bantuannya terhadap penanganan kebersihan kota.
Menurut prakiraan Agenda 21 Indonesia, potensi daur-ulang sampah kering adalah 15-25%, sedang potensi sampah basah yang dapat dikomposkan adalah 30-40%, sehingga potensi daur-ulang sampah diprakirakan sebesar 45-65 %. Namun tingkat daur-ulang di kota-kota di Indonesia baik melalui usaha pemulung maupun usaha daur-ulang di rumah tangga, dan pengomposan jumlahnya diprakirakan hanya sebesar 8,l %.
Kehadiran kelompok pemulung dalam sistem pengelolaan persampahan menimbulkan dua pendapat controversial yang berbeda, yaitu mereka yang menganggap bahwa aktivitas ini disamping memberikan kesempatan pada masyarakat tidak mampu untuk berusaha di sektor ini, juga akan membantu mengurangi sampah yang harus diangkut. Pendapat lain menganggap bahwa upaya ini dari sudut harga diri bangsa tidaklah baik. Sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga akan berkurang beratnya sesuai dengan perjalanan sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir.
Sampah yang dipisahkan umumnya sudah tidak murni lagi (kotor, basah, dan sebagainya) karena sampah tersebut sudah tercampur dengan sampah lainnya dari berbagai sumber. Oleh karena itu, kondisi sampah yang dihasilkan oleh pemulung umumnya memiliki kualitas yang tidak begitu baik dibandingkan dengan yang dipisahkan di sumber sampah. Pemisahan sampah oleh pemulung ini relatif masih sedikitl, diprakirakan kurang dari 2% dari jumlah sampah yang terkumpul di TPS. Selain di TPS, pemulungan sampah juga terjadi di TPA. Seperti halnya pemulungan di TPS, hasil pemulungan sampah di TPA juga memiliki kualitas yang rendah atau bahkan lebih rendah dibandingkan di TPS. Tetapi bila dibandingkan dengan di TPS, pemulungan di TPA memiliki persentase yang lebih besar, yaitu kira-kira 5% dari sampah yang tiba di TPA.
Daur-ulang sampah kota sudah sejak tahun 1980-an yang lalu telah dirasakan pentingnya, dalam upaya pengurangan sampah yang harus diangkut. Aktivitas pemulung yang banyak dijumpai di kota – kota dalam mendaur-ulang sampah kering dinilai dapat membantu menurunkan jumlah sampah yang harus diangkut ke final disposal. Konsep kawasan industri sampah sudah diperkenalkan sejak tahun 1980-an oleh Proh. Hasan Poerbo melalui PPLH ITB dalam upaya membantu pengelola persampahan mengurangi sampah yang perlu diangkut. Sarana yang terletak di kawasan permukiman ini diproyeksikan menerima dan memilah sampah sesuai jenisnya untuk didaur-ulang. Residu sampah yang tidak terdaur-ulang akan diangkut ke pembuangan akhir. Secara bertahap konsep pengolahan sampah secara terpadu tersebut telah dicoba diterapkan dalam skala terbatas di beberapa kota di Indonesia, namun umumnya tidak berlangsung lama. Konsep ini kurang mendapatkan tanggapan yang positif dari pemerintah Indonesia, khususnya dari sebagian besar pengelola persampahan. Terdapat kehawatiran mereka bahwa upaya ini akan mengganggu sistem operasional yang telah baku yaitu dengan konsep “kumpul – angkut – buang”. Penyebab lain adalah karena pengelola sampah di kota-kota Indonesia belum secara penuh menganggap bahwa konsep ini sebagai bagian dari sistem penanganan sampah kota. Mereka lebih melihat sarana ini sebagai upaya untuk memperoleh penghargaan dari pemerintah, bahwa mereka telah memasukkan upaya daur-ulang dalam sistem pengelolaan persampahannya, khususnya dalam upaya memperoleh penghargaan kota terbaik yang secara rutin diberikan oleh pemerintah.
Sampah kering merupakan obyek daur-ulang yang paling banyak dijumpai di kota-kota besar di Indonesia, dengan melibatkan aktivitas sektor informal lainnya yaitu dari ibu rumah tangga, petugas kebersihan, penjual barang bekas, juga pemulung. Baju bekas, kertas koran, botol bekas, kartas bekas semen, dsb di sebagian rumah tangga dianggap bukan sampah tetapi barang yang dapat dijual kembali. Pedagang perantara hadir di pelosok-pelosok kampung di kota-kota di Indonesia untuk membeli barang-barang bekas ini langsung dari rumah ke rumah.
Studi yang dilakukan di Bandung mengungkapkan bahwa sampah kering yang didaur ulang dari lingkungan permukiman besarnya antara 10,9% – 14,6% untuk permukiman kelas menegah ke atas, dan antara 21,9% – 26,5% untuk permukiman menengah ke bawah. Bahan yang didaur-ulang oleh aktivitas pemulung adalah plastik (PE, PS, PP, HOPE, LOPE, PVC dan drum), kertas (warna, duplex, arsip, cone, koran, HVS), logam (alumunium, tembaga, kuningan, seng, besi, drum), kain (majun, polyster, kapas), gelas/kaca (botol bir, botol kecap, botol obat), dan karet. Sedang sampah yang dinilai tidak terdaur-ulang oleh pemulung antara lain adalah sisa makanan, plastik kemasan makanan ringan, batu batere, lampu.
Pengomposan merupakan salah satu teknik pengolahan limbah yang mengandung bahan organik biodegradabel (dapat diuraikan oleh mikroorganisme). Fungsi kompos adalah selain sebagai pupuk organik, akan berfungsi pula untuk memperbaiki struktur tanah, memperbesar kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air serta zat hara yang lain. Dilihat dari komposisi, maka sebagian sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampah hayati, atau secara umum dikenal sebagai sampah organik, atau sampah basah. Melihat komposisinya yang sebagian besar adalah sisa-sisa makanan, khususnya sampah dapur, maka jenis sampah ini akan cepat membusuk, atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini. Bila ini terjadi, massanya akan berkurang dengan besar. Cara inilah yang sebetulnya dikembangkan oleh manusia dalam bentuk pengomposan dan biogasifikasi. Namun bila mekanisme ini berlangsung secara alamiah, khususnya di lingkungan yang sudah jenuh daya dukungnya, maka akan timbullah masalah estetika serta gangguan lainnya terutama karena adanya bau, seperti terjadi di timbunan sampah yang tidak terurus dengan baik. Dengan kondisi kelembaban yang tinggi, serta temperatur yang relatif tinggi seperti di Indonesia ini, maka kecepatan mikroorganisme dalam menguraikan materi-materi sampah yang biodegradabel ini akan lebih baik pula. Cara-cara inilah yang mendorong misalnya untuk :
· Pengembangan
Composter individual di rumah-rumah yang sudah diuji cobakan di beberapa
permukiman di Indonesia,
· Pembuatan
kompos d i lingkungan permukiman atau di final disposal
· Uji
coba penggunaan cacing tanah sebagai pemusnah sampah basah
Pengomposan
secara tradisional telah dikenal di Indonesia. Beberapa kota besar di Indonesia
telah menerapkan cara ini. Namun permasalahan utama yang dijumpai adalah
masalah pemasaran. Banyak usaha pengomposan tidak dapat berlanjut, karena tidak
tersedianya pasar yang dapat menyerap produk yang dihasilkan. Disamping masalah
harga yang perlu memperhitungkan ongkos pengangkutan, juga karena kualitas yang
dihasilkan belum memenuhi keinginan pasar. Penelitian-penelitian skala
laboratorium maupun lapangan terus berlanjut untuk meningkatkan kualitas kompos
yang dihasilkan, misalnya mencampur dengan dedak, penggunaan enzim sellulase
untuk mempercepat masa pengomposan. Uji coba individual composter telah
menunjukkan hasil yang positif. Sebuah composter dengan kapasitas 60 m3 yang
rata-rata menerima sampah dapur dari 5 orang perhari, dapat digunakan sampai 6
bulan. Setelah 6 bulan akan dihasilkan kompos yang kualitasnya cukup baik.
Beberapa kota di Indonesia telah mencoba cara ini di beberapa permukiman. Bila
cara ini dapat diterapkan dan diterima oleh masyarakat, maka sebagian sampah
dari permukiman akan dapat tertangani.
Upaya lain
yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan sampah basah sebagai makanan cacing.
Cacing yang digunakan umumnya dari jenis Lumbricus. Masalah utama yang perlu mendapat
perhatian adalah pemisahan sampah di sumber, yaitu untuk memperoleh sampah yang
cocok untuk makanan cacing. Sampah yang telah dipilah tersebut kemudian
dikomposkan selama 2 minggu. Berdasarkan uji coba skala permukiman, maka
sebanyak 40% sampah basah dari rumah tangga melalui pemilahan manual yang dapat
dimanfaatkan untuk makanan cacing. Dari kegiatan ini akan diperoleh casting
yaitu bahan sejenis kompos, dengan kualitas yang baik dan dengan ukuran butir
yang sudah halus dan siap dijual. Disamping itu dihasilkan biomas cacing yang
dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein, misalnya untuk pakan ternak dan
ikan.
Progres yang Terlaksana
1)
Sekretaris
· Merangkum
hasil tiap rapat dan mengingatkan tiap bidang untuk melengkapi kerjanya
berdasarkan hasil rapat
· Membuat
proposal
2)
Bendahara
·
Merangkum
rencana anggaran belanja (RAB) dari tiap bidang
·
Fixasi
rencana anggaran biaya (RAB) untuk proyek EnvCycle
3)
Bidang
Pengumpulan dan Pengolahan Data
· Memperoleh
data kondisi eksisting pengelolaan sampah yang ada di gedung 8 lantai 2 dan
ruang himpunan berupa sumber sampah, timbulan sampah dan komposisi sampah dari
laporan tugas besar mata kuliah daur ulang dan pemanfaatan limbah tahun 2012.
·
Sampling
pewadahan sampah yang ada di gedung 8 lantai 2 dan ruang himpunan
·
Pengolahan
data kuisioner yang dibuat bidang sosialisasi dan workshop dan telah diisi oleh
responden.
4)
Bidang
Guideline
·
Menyusun
tata cara untuk pemilahan sampah
·
Membuat
petunjuk bagi warga gedung 8 untuk membuang sampah
5)
Bidang
Sosialisasi dan Workshop
·
Membuat
dan menyebarkan kuisioner
·
Menentukan
teknis kuisioner
·
Membuat
poster propaganda
·
Menyusun
rencana anggaran biaya (RAB)
6)
Bidang
Prototype dan Implementasi
·
Menentukan
daur ulang dan pengolahan yang akan diimplementasikan untuk sampah gedung 8
lantai 2 dan ruang himpunan
·
Mendesain
pengadaan air galon sebagai upaya reduksi timbulan sampah
·
Mendesain
pewadahan sampah yang lebih efektif
·
Mendesain
komposter untuk pengolahan sampah organik
·
Menentukan
lokasi perletakkan fasilitas daur ulang
·
Menyusun
rencana anggaran biaya (RAB)
Rencana yang Akan di Laksanakan
1)
Sekretaris
·
Membuat
laporan pertanggung jawaban proyek EnvCycle
2)
Bendahara
· Mengatur,
mencatat, menyusun dan membuat segala bentuk anggaran pemasukan dan pengeluaran
keuangan selama kegiatan EnvCycle berlangsung
3)
Bidang
Pengumpulan dan Pengolahan Data
·
Pengolahan
data kuisioner lanjutan
·
Membantu
bidang sosialisasi dalam penyebaran poster
·
Membantu
bidang sosialosasi dan workshop dalam mensosialisasikan proyek EnvCycle
·
Membantu
bidang prototype
4)
Bidang
Guideline
·
Membantu
bidang sosialisasi dalam penyebaran poster
·
Membantu
bidang sosialosasi dan workshop dalam mensosialisasikan proyek EnvCycle
·
Membantu
bidang prototype
5)
Bidang
Sosialisasi dan Workshop
·
Melanjutkan
penyebaran kuisioner lanjutan dengan sasaran mahasiswa TL selain angkatan 2014.
·
Membuat
poster yang berisi Guideline dan kampanye lingkungan
·
Sosialisasi
proyek EnvCycle
Isi konten pelaksanaan
sosialisasi :
1.
Latar
belakang Recycle Project
2.
Teori
mendasar mengenai daur ulang dan pemanfaatan limbah
3.
Tujuan
dan sasaran Recycle Project
4.
Timbulan
sampah yang paling dominan
5.
Penjelasan
Guidelines
6.
Himbauan
Reduce
6)
Bidang
Prototype dan Implementasi
·
Pembelian
alat dan bahan untuk prototype daur ulang
·
Peremajaan
tempat sampah himpunan
·
Penempatan
komposter dan pembuatan fasilitas pendukung
·
Launching
akbar dan pelaksanaan proyek
·
Evaluasi
proyek EnvCycle yang berlangsung
Time Line Kerja
1)
Sekretaris
Penyusunan proposal 16 - 23
oktober 2014
2)
Bendahara
Penyusunan RAB 21 oktober
2014
3)
Bidang
Pengumpulan dan Pengolahan Data
4)
Bidang
Sosialisasi dan Workshop
5)
Guideline
13-14 oktober 2014
6)
Bidang
Prototype dan Implementasi
Oktober
2014
|
||||||
sen
|
sel
|
Rab
|
kam
|
jum
|
sab
|
ming
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
23
|
24
|
25
|
26
|
27
|
28
|
29
|
30
|
31
|
||
Hari
|
Tanggal
|
Kegiatan
|
Rabu
|
8
|
Pencarian bahan untuk perencanaan prototype
|
Senin
|
13
|
Pembuatan perencanaan prototype
|
Rabu
|
15
|
Pembuatan perencanaan prototype (lanjutan)
|
Senin
|
20
|
Pembuatan perencanaan prototype (lanjutan)
|
Rabu
|
22
|
Pembuatan Powerpoint Prototype, desain komposter,
dan RAB
|
Sabtu
|
25
|
Pembuatan Powerpoint Prototype, desain komposter,
dan RAB (lanjutan)
|
Selasa
|
28
|
Presentasi powerpoint ke semua mahasiswa daur ulang
dan Pemantapan proyek
|
Nop-14
|
||||||
sen
|
sel
|
rab
|
kam
|
jum
|
sab
|
ming
|
1
|
2
|
|||||
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
23
|
24
|
25
|
26
|
27
|
28
|
29
|
30
|
Hari
|
Tanggal
|
Kegiatan
|
Senin - Rabu
|
3 -
5
|
Pembelian Alat dan Bahan
|
Kamis -
Jumat
|
6 -7
|
Peremajaan Tempat Sampah Himpunan
|
Senin
- Selasa
|
10
- 11
|
|
Rabu -
Jumat
|
12 -14
|
Penempatan Komposter dan pembuatan fasilitas
pendukung
|
Kamis
|
20
|
Launching Akbar
|
Jumat -
Jumat
|
21 -
28
|
Pelaksanaan proyek
|
Desember 2014
|
||||||
sen
|
sel
|
rab
|
kam
|
jum
|
sab
|
ming
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
23
|
24
|
25
|
26
|
27
|
28
|
29
|
30
|
31
|
||||
Warna
|
Kegiatan
|
Pelaksanaan proyek
|
|
Pelaksanaan proyek dan evaluasi proyek
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar